Rambut Terjatuh Saat Haid?

Yusuf Suhada |

Paham yang tersebar di sebagian masyarakat kita bahwa dalam mazhab Syafi’i perempuan haid tidak boleh memotong rambut, menggunting kuku, dsb. Selain itu mereka juga dianjurkan mengumpulkan rambut mereka yang jatuh untuk kemudian dimandikan bersama mereka setelah suci dari haid. Lalu benarkah demikian?

Untuk memahami masalah ini secara utuh, ada dua poin yang perlu dibahas:

  1. Larangan memotong rambut bagi perempuan haid
  2. Perintah untuk mengumpulkan rambut dan kuku yang terpotong untuk dimandikan bersama setelah suci.

POIN PERTAMA: LARANGAN MEMOTONG RAMBUT BAGI PEREMPUAN HAID

Kita akan membicarakan poin ini dari segi hukum dan ilat/alasannya.

Dari segi hukum:

Hukum memotong kuku dan rambut bagi perempuan haid dalam mazhab Syafi’i memang dilarang, tapi tingkat larangannya hanya sampai pada derajat makruh, tidak haram. Artinya, tidak ada dosa sama sekali ketika sengaja dipotong sekalipun. Ulama Syafi’iyyah yang pertama kali menjelaskan hal ini adalah Imam Ghazali (w. 505 H) dalam Ihya Ulumuddin (Beirut: Dar al-Ma’rifah, juz 2, hlm. 51):

وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَحْلِقَ أَوْ يُقَلِّمَ أَوْ يَسْتَحِدَّ أَوْ يُخْرِجَ دَمًا أَوْ يُبِيْنَ مِنْ نَفْسِهِ جُزْءًا وَهُوَ جُنُبٌ إِذْ تُرَدُّ إِلَيْهِ سَائِرُ أَجْزَائِهِ فِي اْلآخِرَةِ فَيَعُوْدُ جُنُباً وَيُقاَلُ إِنَّ كُلَّ شَعْرَةٍ تُطَالِبُهُ بِجِناَبَتِهَا

Baca Juga: Wajib Menyusui Bayi 2 Tahun?

Kemudian pendapat ini diikuti oleh Ibnu Hajar al-Haitami (w. 973 H) dalam Tuhfah al-Muhtaj (Kairo: Dar al-Hadist, juz 1, hlm. 132):

ﻭﺃﻥ ﻻ ﻳﺰﻳﻞ ﺫﻭ ﺣﺪﺙ ﺃﻛﺒﺮ ﻗﺒﻠﻪ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﺑﺪﻧﻪ ﻭﻟﻮ ﻧﺤﻮ ﺩﻡ ﻗﺎﻝ اﻟﻐﺰاﻟﻲ ﻷﻥ ﺃﺟﺰاءﻩ ﺗﻌﻮﺩ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻲ اﻵﺧﺮﺓ ﺑﻮﺻﻒ اﻟﺠﻨﺎﺑﺔ ﻭﻳﻘﺎﻝ ﺇﻥ ﻛﻞ ﺷﻌﺮﺓ ﺗﻄﺎﻟﺒﻪ ﺑﺠﻨﺎﺑﺘﻬﺎ

Diikuti juga oleh Imam Ramli (w. 1004 H) dalam Nihayah al-Muhtaj (Beirut: Dar al-Fikr, juz 1, hlm. 268):

قال في الإحياء: لا ينبغي أن يحلق أو يقلم أو يستحد أو يخرج دما أو يبين من نفسه جزءا وهو جنب، إذ سائر أجزائه ترد إليه في الآخرة فيعود جنبا. ويقال إن كل شعرة تطالب بجنابتها

Dan perlu dipahami, hukum makruh ini hanya berlaku bagi mereka yang ‘sengaja’ memotong, adapun apabila terputus dengan sendirinya tanpa ada kelalaian dari si perempuan, maka tidak dimakruhkan.

Ali Syibramalsi (w. 1087 H) menuliskan (𝘏𝘢𝘴𝘺𝘪𝘢𝘩 𝘈𝘭𝘪 𝘚𝘺𝘪𝘣𝘳𝘢𝘮𝘢𝘭𝘴𝘪, Beirut: Dar al-Fikr, juz 1, hlm. 268):

ﻭﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻣﺤﻞ ﺫﻟﻚ ﺣﻴﺚ ﻗﺼﺮ  ﻛﺃﻥ ﺩﺧﻞ ﻭﻗﺖ اﻟﺼﻼﺓ ﻭﻟﻢ ﻳﻐﺘﺴﻞ ﻭﺇﻻ ﻓﻼ ﻛﺄﻥ ﻓﺠﺄﻩ اﻟﻤﻮﺕ

Jadi, dari penjelasan ini, dari segi hukum, dalam pendapat mu’tamad mazhab Syafi’i sepakat bahwa memang dimakruhkan bagi perempuan haid untuk memotong kuku dan rambutnya.

Namun dari segi ilat/alasannya, terdapat perbedaan pendapat.

Dari segi ilat:

Imam Ghazali menjelaskan bahwa ilat-nya adalah karena kuku dan rambut akan dibangkitkan kembali dalam keadaan junub sebagaimana dikutip di atas.

Ali Syibramalsi membantah ilat di atas dengan mengutip pendapat Sa’duddin at-Taftazani (w. 792 H) bahwa yang dibangkitkan adalah anggota tubuh asli, yaitu yang menempel dari awal lahir sampai mati, bukan semua anggota tubuh yang pernah menempel.

Ali Syibramalsi menuliskan (Hasyiyah Ali Syibramalsi, Beirut: Dar al-Fikr, juz 1, hlm. 268):

هذا مبني على أن الرد ليس خاصا بالأجزاء الأصلية وفيه خلاف، ﻭعبارة الشيخ سعد الدين ﻓﻲ ﺷﺮﺡ اﻟﻌﻘﺎﺋﺪ اﻟﻨﺴﻔﻴﺔ ردا على الفلاسفة: وذلك لأن اﻟﻤﻌﺎﺩ ﺇﻧﻤﺎ ﻫﻮ اﻷﺟﺰاء اﻷﺻﻠﻴﺔ اﻟﺒﺎﻗﻴﺔ ﻣﻦ ﺃﻭﻝ اﻟﻌﻤﺮ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮﻩ

Al-Qalyubi (w. 1069 H) juga membantah ilat imam Ghazali dan menyebutkan bahwa yang dibangkitkan adalah anggota tubuh yang menempel ketika mati.

Al-Qalyubi menuliskan (Hasyyah al-Qalyubi Ala Kanz ar-Raghibin, Beirut: Dar al-Fikr, juz 1, hlm. 78):

وفي عود نحو الدم ﻧﻈﺮ؛ وكذا في غيره ﻷﻥ العائد هو الأجزاء التي مات عليها إلا نقص نحو عضو ﻓﺮاﺟﻌﻪ

Al-Mudabighi (w. 1170 H) sebagaimana dikutip asy-Syarwani (w. 1301 H) menjelaskan memang anggota tubuh yang dibangkitkan bersama dengan seseorang itu hanya anggota tubuh asli, yaitu yang menempel dari semenjak lahir sampai wafat (sebagaimana pendapat at-Taftazani yang dikutip Ali Syibramalsi di atas).

Di samping itu kuku dan rambut yang terputus ketika haid juga ikut dibangkitkan secara terpisah untuk mencela orang yang sengaja memutuskannya dalam keadaan haid padahal dia diperintahkan untuk tidak memutuskannya.

Asy-Syarwani menuliskan (Hasyiyah asy-Syarwani Ala at-Tuhfah, Kairo: al-Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra, juz 1, hlm. 284):

ﻭﻋﺒﺎﺭﺓ اﻟﻤﺪاﺑﻐﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﻷﻥ ﺃﺟﺰاءﻩ ﺇﻟﺦ ﺃﻱ اﻷﺻﻠﻴﺔ ﻓﻘﻂ ﻛﺎﻟﻴﺪ اﻟﻤﻘﻄﻮﻋﺔ ﺑﺨﻼﻑ ﻧﺤﻮ اﻟﺸﻌﺮ ﻭاﻟﻈﻔﺮ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻌﻮﺩ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻨﻔﺼﻼ ﻋﻦ ﺑﺪﻧﻪ ﻟﺘﺒﻜﻴﺘﻪ ﺃﻱ ﺗﻮﺑﻴﺨﻪ ﺣﻴﺚ ﺃﻣﺮ ﺑﺄﻥ ﻻ ﻳﺰﻳﻠﻪ ﺣﺎﻟﺔ اﻟﺠﻨﺎﺑﺔ ﺃﻭ ﻧﺤﻮﻫﺎ اﻧﺘﻬﺖ اﻩـ

POIN KEDUA: PERINTAH UNTUK MENGUMPULKAN RAMBUT DAN KUKU YANG TERPOTONG UNTUK DIMANDIKAN BERSAMA SETELAH SUCI

Sebagaimana dijelaskan di atas, ilat kemakruhan memotong kuku dan rambut bagi perempuan haid adalah karena kuku dan rambutnya akan dibangkitkan kembali dalam keadaan tidak suci. Maka dari sini, dapat dipahami bahwa tidak ada gunanya sama sekali kalau rambut yang sudah terlanjur terputus itu kalau dimandikan. Karena kalau memang dengan dimandikan akan membuat dia suci, seharusnya tidak makruh untuk dipotong, karena bisa dimandikan setelah dipotong.

Dari sini Ibnul Qasim al-Abbadi (w. 992 H) menjelaskan bahwa rambut dan kuku yang sudah terpotong, hadas-nya tidak akan hilang meskipun kemudian dimandikan. Maka tidak ada anjuran untuk mengumpulkan rambut dan kuku yang sudah terputus karena memandikannya bersama si perempuan haid sama sekali tidak berpengaruh kepada rambut dan kuku tersebut.

Ibnul Qasim al-Abbadi menuliskan (Hasyiah Ibn al-Qasim al-Abbadi Ala a-Tuhfah, Kairo: al-Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra, juz 1, hlm. 285):

(ﻷﻥ ﺃﺟﺰاءﻩ ﺗﻌﻮﺩ إلخ) ظاﻫﺮ ﻫﺬا اﻟﺼﻨﻴﻊ ﺃﻥ اﻷﺟﺰاء اﻟﻤﻨﻔﺼﻠﺔ ﻗﺒﻞ اﻻﻏﺘﺴﺎﻝ ﻻ ﺗﺮﺗﻔﻊ ﺟﻨﺎﺑﺘﻬﺎ ﺑﻐﺴﻠﻬﺎ

KESIMPULAN

Perempuan haid di-makruh-kan secara sengaja memotong rambut dan kukunya. Tapi kalau sudah terputus, tidak perlu dikumpulkan untuk dimandikan setelah suci. Wallahu a’lam!

Share

Pengasuh: Dr. Mahmudi Muhson, Lc. MA. Dr. Ahmad Ikhwani, Lc. MA. Dr. Aang Asy'ari, Lc. M. Si. Dr. Bakhrul Huda, Lc. M. E. I. Dr. Ahmad Subqi, Lc. M. Ag. Ahmad Hadidul Fahmi, Lc. Muhammad Amrullah, Lc. Imam Nawawi, Lc. MA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *