Kecerdasan Imam Abu Hanifah

Kecerdasan Imam Abu Hanifah

Yusuf Suhada |

Ketika Abu Hanifah dibawa ke Baghdad oleh Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, semua murid-muridnya berkumpul untuk membahas suatu permasalahan. Diantaranya: Abu Yusuf, Zufar (yang mana keduanya adalah mujtahid mutlak), dll.

Kemudian mereka sepakat pada satu pendapat dan menguatkannya dengan dalil-dalil, dengan tujuan ketika Abu Hanifah pulang mereka akan menanyakan masalah tersebut dan mendebatnya.

Ketika Abu Hanifah pulang ia langsung ditanya mengenai masalah tersebut di majelis talaqqi. Maka ia menjawab dengan pendapat yang berbeda dengan pendapat yang sudah dimusyawarahkan oleh murid-muridnya. Mereka pun berteriak-teriak. “Apakah perjalanan jauh sudah mengambil kecerdasan sang Imam?”.

Baca juga: 15 Pendapat Jumlah Jamaah Salat Jumat

Abu Hanifah berkata: “Tenang! Tenang! Apa pendapat kalian?”
Mereka menjawab: “Menurut kami pendapat yang benar adalah seperti ini”, dan seluruh muridnya terus menyebutkan satu persatu dalil yang memperkuat masalah tersebut.

Abu Hanifah dengan santai membantah satu persatu dalil yang sudah mereka sebutkan sampai mereka tunduk dan mengakui bahwa yang benar adalah pendapat sang guru.

“Bagaimana? Kalian sudah tahu sekarang?” Tanya sang Imam.
Semua menjawab: “Ya wahai guru. Yang benar adalah pendapatmu”.

Abu Hanifah berkata: “Benarkah demikian?”. Maka Abu Hanifah pun mulai menyebutkan dalil-dalil yang menguatkan pendapat murid-muridnya dan membantah satu-persatu dalil-dalil yang tadinya ia gunakan untuk mendukung pendapatnya. Sampai-sampai semua murid-muridnya kembali kepada pendapat pertama yang tadi mereka pegang.

Baca juga: Jaman Plastik (3) – Menunggu Kebijakan Bajik Tangani Sampah Plastik

“Wahai Imam, engkau telah menzalimi kami, yang benar adalah pendapat kami!”

Abu Hanifah berkata: “Benarkah demikian? Bagaimana kalau ada yang mengatakan bahwa dua pendapat tadi adalah salah dan yang benar adalah pendapat ketiga?”

Sang Imam pun membuat pendapat ketiga, menyebutkan dalil-dalilnya sampai seluruh muridnya melepas kembali dua pendapat tadi dan sepakat bahwa yang benar adalah pendapat ketiga.

Murid-muridnya pun bingung: “Sebenarnya manakah pendapat yang paling kuat?”
Abu Hanifah menjawab: “Yang benar adalah pendapat yang menjadi jawabanku yang pertama. Sambil menyebutkan satu persatu alasannya.

“Inilah pendapat yang benar dan masalah ini tidak keluar dari tiga pendapat tadi dan tolaklah sisanya” tutup imam Abu Hanifah.

Imam Malik berkata: “Kalau Abu Hanifah mengatakan bahwa tiang masjid ini adalah kayu, maka kalian akan setuju bahwa tiang ini adalah kayu (karena kecerdasan beliau)”.

Pengasuh: Dr. Mahmudi Muhson, Lc. MA. Dr. Ahmad Ikhwani, Lc. MA. Dr. Aang Asy'ari, Lc. M. Si. Dr. Bakhrul Huda, Lc. M. E. I. Dr. Ahmad Subqi, Lc. M. Ag. Ahmad Hadidul Fahmi, Lc. Muhammad Amrullah, Lc. Imam Nawawi, Lc. MA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *