Buruh dalam Islam

Kaum buruh adalah salah satu pondasi tempat tegaknya bangunan ekonomi. Sejak manusia tinggalkan tradisi berburu dan beralih pada peradaban bercocok tanam. Kepala suku mengorganisir tenaga anggota suku untuk menanam bahan pokok.

Dalam perkembangannya, hak-hak tanah diambil alih atau dibeli oleh para tuan tanah, yang membutuhkan sedemikian banyak tenaga manusia untuk menggarap sawah-sawah.

Buruh-buruh adalah mereka yang tukarkan tenaga untuk sejumlah bayaran yang disepakati bersama.

Pertanian yang makin berkembang, selain butuhkan banyak tenaga, juga alat-alat yang memudahkan. Muncullah tukang-tukang. Tukang besar kemudian butuh tenaga-tenaga. Pandai besi yang makin besar jumlah produksi kemudian kelola cara produksi. Lahirlah pabrik-pabrik.

Pengetahuan yang makin berkembang dan ilmu-ilmu terapan lahirkam teknologi. Makin hari makin canggih temukan cara produksi dan cara tingkatkan kualitas komoditi.

Semua tak lepas dari peran pekerja dan keringat buruh.

Tak heran Islam sangat memerhatikan mereka. Kesejahteraan mereka.

Nabi pernah bekerja untuk orang lain. Bahkan sejak kecil Nabi sering harus bekerja untuk hidup diri sendiri. Sayyidina Ali pernah menjadi buruh untuk seorang Yahudi. Nabi perintahkan anak-anak muda yang pada suatu pagi duduk-duduk di dalam masjid Nabawi untuk pergi ke pasar, memburuh, cari jalan dapatkan rejeki.

Begini cara Nabi Islam perhatikan kaum buruh:
  • Islam posisikan buruh sebagai saudara pemberi upah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori, Nabi bersabda, “Buruh kalian saudara kalian. Allah titipan tanggungjawab atas mereka pada pundak kalian.”
  • Nabi melarang pemberi upah untuk bebani buruh di luar kemampuan, atau kalau sekarang, jam kerja. Sabda Nabi, “Jangan bebani mereka di luar kemampuan. Jika ada pekerjaan berat, bantulah.”
  • Nabi wajibkan pemberi upah untuk bayarkan gaji tepat waktu. Sabda Nabi, “Bayarlah upah buruh sebelum keringatnya kering.”
  • Nabi dengan keras kecam mereka yang lali pada buruh. Nabi ancam mereka dengan siksa neraka. Nabi bersabda bahwa pemberi upah yang lalim pada buruhnya akan menjadi musuh Allah pada hari kiamat.
  • Nabi selalu bersikap welas dan asih kepada kaum buruh. Menyarankan majikan untuk perlakukan buruh dengan manusiawi. Nabi anjurkan majikan untuk sesekali makan bersama buruh mereka. Nabi anjurkan berbuat baik.

Demikianlah. Selamat hari buruh.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *