Social Media Distancing

– Muhammad Luthfil Anshori – 

Seiring merebaknya virus Covid-19 di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia, muncul beragam penyikapan sebagai langkah antisipatif guna memutus mata rantai penularannya. Tagar Stay at home, Di rumah saja, WFH (Work From Home), daring atau pembelajaran via Online dan lain sebagainya memenuhi ruang-ruang media.

Sikap semacam ini masuk dalam katagori pengamalan kaidah “al-wiqâyatu khaîrun min al-‘ilâj” atau “prevention is better than cure”, yaitu mencegah lebih baik daripada mengobati. Termasuk juga pengamalan kaidah “Dar’u al-mafâsid muqaddam ‘alâ jalbi al-mashâlih”, yaitu (usaha) menghindari kerusakan didahulukan/diutamakan dari (tujuan) memperoleh kemaslahatan. Termasuk juga kaidah “al-dlararu yuzâl”, yaitu sesuatu yang mengandung bahaya haruslah dihilangkan.

Terkait dengan hal itu, maka salah satu solusi yang bisa ditempuh adalah dengan melakukan khalwat. Istilah ini memang lebih familiar digunakan oleh kaum agamawan, khususnya para sufi, yang sedang menjalani suluk tertentu untuk lebih fokus beribadah kepada Tuhan dengan cara menyendiri di suatu tempat.

Makna terminologi khalwat ini memang nampak kurang pas jika digunakan untuk menggambarkan kondisi masyarakat saat ini, yang sedang dihimbau untuk melakukan social distancing atau membuat jarak antar sesama manusia dengan mengurangi aktivitas sosial yang melibatkan banyak orang. Karena hal itu dilakukan di dalam rumah, bersama keluarga, sehingga hakikatnya tiap-tiap orang tidak betul-betul menyendiri.

Namun makna khalwat yang lebih luas dan fleksible bisa saja kita gunakan dalam konteks ini, di mana tiap orang sedang menyepi dari hiruk pikuk dunia, entah di dalam rumahnya masing-masing, atau di kamar, di depan layar laptop, atau di hadapan layar handphonenya.

Jika khalwat bermakna menyendiri, maka kesendirian seseorang tidak selalu bermakna negatif, bahkan banyak hal positif yang bisa dikerjakannya. Seorang hamba yang sedang menjalani suluk dengan berkhalwat, ia justru sedang berupaya meningkatkan potensi positif kehambaannya di hadapan Rabb-nya.

Guru dan dosen yang sedang menjalankan pekerjaan dari rumahnya (work from home), juga bisa menjadi lebih produktif, sekaligus memiliki quality time lebih banyak dengan keluarga, karena waktu tak harus banyak terbuang di perjalanan. Para pelajar dan mahasiswa juga bisa memanfaatkan kesepiannya untuk lebih banyak membaca dan menulis.

Khalwat model ini akan bisa berdampak positif jika disikapi secara positif, dengan sebuah optimisme bahwa rantai penyebaran virus akan bisa diputus, dan pekerjaan serta proses pembelajaran akan tetap berjalan. Tidak ada istilah libur dalam belajar, hanya medianya saja yang beralih.

Dari sisi peningkatan relijiusitas para pemeluk agama sesungguhnya juga bisa meningkat. Meskipun ada himbauan untuk tidak melakukan aktivitas ibadah di masjid, namun secara personal-spiritual setiap orang akan tetap berusaha mendekat kepada Tuhan, guna memohon perlindungan dan keselamatan, melalui media apa saja dan dari mana saja, termasuk dari rumah masing-masing. Tidak ada istilah libur juga dalam konteks ibadah dan tanggung jawab kehambaan.

Sehingga, karena adanya virus ini, meskipun masjid-masjid menjadi banyak yang kosong, namun hati setiap orang justru selalu ingat untuk terus beribadah. Hatinya terisi oleh nilai-nilai kemasjidan meski ia tidak di dalam masjid. Hal ini bisa dikatakan lebih baik, dibandingkan ketika masjidnya penuh terisi, tapi hati para jamaahnya justru kosong dari Allah.

Kemudian terkait dengan social media distancing, ini juga penting untuk kita perhatikan. Pembatasan dan pengendalian diri untuk tidak selalu membuka dan membaca beragam berita yang beredar, merupakan salah satu langkah antisipatif agar kita tidak terlalu larut dalam narasi ketakutan dan kekhawatiran.

Membaca berita itu penting, namun harus mampu memilah dan memilih, serta memiliki sikap kritis untuk tidak mudah percaya. Dalam konteks ini, rasionalitas dan proporsionalitas harus dikedepankan. Dalam konteks syari’at Islam, banyak teks yang bisa kita jadikan pedoman. Misalnya Sabda Nabi SAW,

Min husni Islâmi al-mar`i tarkuhû mâ lâ ya’nîhi”,

di antara tanda-tanda baiknya keislaman seseorang adalah kemampuannya untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermakna/bermanfaat.

Selain itu, ada juga kaidah lain yang bisa kita pakai dalam konteks menyikapi beragam berita, yaitu “Da’ mâ yarîbuk ilâ mâ lâ yarîbuk”, tinggalkanlah apa yang bisa menjadikanmu ragu, menuju apa-apa yang tidak membuatmu ragu.

Sehingga, terhadap berita-berita yang membuat kita ragu dan khawatir hendaknya tidak perlu kita baca. Yang perlu kita dengarkan adalah informasi serta himbauan dari para ahli di bidangnya masing-masing.

Dengan demikian, khalwat dalam konteks yang lebih luas, serta social media distancing yang kita terapkan dalam menghadapi wabah ini, akan menjadikan kita lebih baik, lebih produktif, sebagai pelajar, mahasiswa, guru, dosen dan sekaligus sebagai hamba Tuhan yang memahami arti penting kemanusiaan. Bahwa memperjuangkan kehidupan bersama seluruh umat manusia adalah bagian dari amanat Tuhan yang harus kita laksanakan.

Jum’at, 3 April 2020

* Dosen STAI Al-Anwar Sarang Rembang

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *